Kamis, 10 Mei 2012

CANDI BOROBUDUR

     Candi Borobudur terletak di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. letaknya lebih kurang 269 M diatas permukaan laut serta dikelilingi beberapa gunung. Candi Borobudur telah mengalami 2 kali pemugaran:  yang pertama tahun 1907 - 1911 yang dilakukan oleh Theodorus Van Erp pada masa penjajahan Belanda. Enam puluh tahun kemudian Kondisi Candi Borobudur kembali dalam keadaan yang membahayakan dengan demikian pemerintah Indonesia dengan bantuan dari UNESCO melaksanakan pemugaran yang kedua kalinya, dimulai tahun 1973 - 1983.
     
        Dalam garis besarnya, pekerjaan pemugaran ini terdiri atas:
  1. Pembongkaran seluruh bagian Rupadhatu, yaitu 5 tingkat segi 4 diatas kaki Candi, yang meliputi batu potongan sejumlah lebih 1.000.000 atau 29.000 m3.
  2. Pembersihan dan pengawetan batu-batu kulit, yang dibongkar satu demi satu, sebanyak hampir 170.000 potong atau sekitar 6.000 m3.
  3. Pemasangan pondasi beton bertulang sebanyak 4.000 m3 pada tiap tingkat, untuk mendukung candi, dengan saluran-saluran air didalam kontruksinya.
  4. Penyusunan kembali batu-batu kulit yang sudah bersih dari jasad-jasad renik, (lumut, cendawan dan mikro organisme lain) di tempat semula. dan pada tanggal 23 Pebruari 1983, Bapak Presiden Republik Indonesia Soeharto meresmikan selesainya pemugaran candi Borobudur (Purna Pugar) dengan harapan candi Borobudur dapat bertahan 1.000 tahun lagi.
          Sebagai kelanjutan dari pada pemugaran tersebut, pemerintah Indonesia memutuskan untuk membangun sebuah taman disekitar candi yang luasnya meliputi 85 Ha. Fungsi dari Taman tersebut adalah sebagai peredam, mengatur serta menampung arus pengunjung candi yang semakin bertambah jumlahnya. Dengan demikian taman merupakan sabuk pelindung dan pengaman candi Borobudur yang megah itu.

           Dalam konsep perencanaan taman , diusahakan agar dapat dihidupkan kembali suasana sejarah dan spiritual disekitar candi. Bangunan-bangunan yang ada didalam taman dibangun dengan pola arsitektur tradisional, demikian pula pertamanan dengan berbagai jenis pohon langka, kesemuanya diharapkan untuk menjadi satu perpaduan yang indah, agung serta berkesan suasana alam yang tenang dan bersejarah.

Fasilitas yang ada di Taman:
  • Taman Borobudur Guest House dilengkapi Restourant, Ruang Seminar, Perpustakaan dan Audio Visual tentang cerita Borobudur.
  • Bangsal Pameran / Museum.
  • Pusat Penelitian / Konservasi batu candi.
  • Beberapa mushola dan urinoir yang tersebar dalam taman.
  • Tempat pembibitan tanaman
  • Tempat parkir yang dapat menampung 90 kendaraan bus, 260 kendaraan roda empat, 200 sepeda motor.
  • 2 buah restoran bertaraf international.
  • Loket penjualan karcis di kedua sisi pintu masuk, dan tempat penitipan barang.
  • Pusat informasi / Penerangan, dimana para pengunjung dapat memperoleh keterangan lebih lanjut tentang tanaman dan Candi Borobudur.
  • Arena anak-anak dan Gajah.
          Candi Borobudur adalah candi kuno peninggalan agama Budha dan dibangun sebagai tempat bersemadi atau untuk mengheningkan cipta. Nama Borobudur berasal dari kata Boro dan Budur, Boro berarti kuil atau candi, dari bahasa sansekerta "Byara". Sedangkan Budur mengingatkan kita pada bahasa Bali yaitu "Beduhur" yang artinya diatas bukit.

          Candi Borobudur dibangun diatas bukit dangan bentuk piramida berundag, Candi ini terbuat dari susunan batu jenis andesit yang jumlahnya lebih dari 2.000.000 blok batu.

           Apabila kita perhatikan dari jauh candi ini berbentuk stupa akan tetapi apabila kita mendekatinya terlihat dua benda atau gaya bangunan. Bangunan atas berbentuk stupa induk dan berlandaskan tiga teras bulat, gaya ini menggambarkan gaya arsitektur India. Sedangkan bagian bawah merupakan bangunan piramida berundag berbentuk persegi bersudut banyak.

           Bentuk ini menggambarkan gaya atau arsitektur Jawa, akan tetapi kedua bagian tadi merupakan satu kesatuan dan keseluruhannya menyerupai stupa.

           Stupa yang ada di Candi Borobudur sesuai dengan konsep agama Budha merupakan pantulan (replika) daripada alam semesta. Candi Borobudur tidak mempunyai ruangan didalamnya. Kita hanya dapat melihat dan mengaguminya dengan berjalan mengelilingi candi tersebut dinamakan "Pradaksina".
menurut agama Budha bearti memberikan penghormatan kepada roh-roh baik. Bangunan candi Borobudur terdiri dari 3 bagian yang besar.
  • Bagian pertama, dinamakan "Kamadhatu", yang menggambarkan alam kehidupan manusia yang sudah dapat mengendalikan hawa nafsu dilambangkan oleh bagian pondasi.
  • Bagian kedua dinamakan "Rupadhatu" yang menggambarkan alam kehidupan manusia yang sudah dapat mengendalikan hawa nafsunya, akan tetapi masih terikat oleh bentuk.
  • bagian ketiga dinamakan "Arupadhatu" yang akan menggambarkan alam nirwana atau sunyata, dilambangkan 3 teras berbentuk lingkaran.
Area Budha yang terdapat di candi Borobudur jumlahnya 504 buah. didalam stupa berlubang di tiga teras dibawah stupa induk = 72 buah area yang disebut "Wajra Satwa".

didalam relung-relung pada tingkat Rupadathu terdapat area sebanyak 432 buah, yang disebut "Dyani Budha" Arca Dyani Budha pada setiap sisi daripada candi mulai dinding tingkat I sampai dengan tingkat IV mempunyai sikap tangan yang berbeda. Sikap ini disebut "Mudra".

           pada sisi sebelah timur disebut "Aksobya" dengan sikap tangan Bumi Sparsa yang melambangkan kekuatan iman. Sisi sebelah selatan disebut "Ratna Sambawa", dengan sikap tangan Wara Mudra melambangkan cinta kasih. sisi sebelah barat disebut "Amitaba" dengan sikap tangan Dyana Mudra yang melambangkan sedang bersemedi / mediasi.

           sisi sebelah utara disebut "Amogasidha" dengan sikap tangan Abhaya Mudra melambangkan tidak takut terhadap bahaya. Untuk menjaga kebersihan candi, para pengunjung tidak diperkenankan membawa makanan, minuman ke area candi. Barang-barang tersebut dapat dititipkan di tempat penitipan barang berada disebelah kanan pintu masuk.

sedangkan pada bagian tengah yang seluruhnya menghadap ke segala arah dinamakan "Wairocana" dengan sikap tangan Witarka Mudra, melambangkan sikap mengajarkan / menyebarluaskan ajaran-ajaran.


RELIEF CANDI


          pada candi Borobudur terdapat relief sebanyak 1460 buah, yang menggambarkan adegan-adegan dan 1212 buah panel relief dekorasi. Agar dapat menyimak ceritera dalam relief secara berurutan, dianjurkan memasuki candi melalui pintu sebelah timur dan pada tiap tingkatan berputar kekiri dan meninggalkan candi disebelah kanan (Pradaksina).

          sebenarnya pada kaki asli Candi Borobudur atau tingkat Kamadhatu terdapat 160 buah panel relief yang masih tertutup. Relief ini menggambarkan kehidupan manusia yang masih terbelenggu oleh hawa nafsu. ceritera ini dapat kita baca dalam buku "Maha Karma Wibangga".

LALITAVISTARA

Pada tingkatan Rupadhatu terdapat suatu susunan relief yang menceritakan kehidupan Budha Gautama. Relief atau cerita ini disebut Lalitavistara yang menceritakan riwayat hidup Budha Gautama mulai lahirnya Pangeran Sidharta di taman Lumbini (Nepal). Ibunya bernama Maya Dewi meninggal 1 minggu setelah melahirkan putera tersebut.

        setelah beranjak dewasa P. Sidharta dikawinkan dengan seorang puteri bernama puteri Gopa. Dalam pengembaraannya di luar istana P. Sidharta bertemu dan menyaksikan beberapa kejadian yang belum pernah dilihatnya. Kejadian yang dilihat oleh P. Sidharta ialah: seorang tua buta orang yang baru sakit, orang meninggal dunia dan seorang pendeta. Setelah melihat kenyataan tadi, P. Sidharta meninggalkan istana dan menjadi pertapa (Wanaprasta).
     
        Selama menjadi pertapa beliau menjadi murid dari beberapa guru terkemuka: Brahmapani, Rydraka, Arada Kalapa dan lima pertapa termashur. Akan tetapi ajaran yang diterimanya dari para guru tersebut tidak memuaskan P. Sidharta akhirnya P. Sidharta bertapa dibawah pohon Bodhi di kota Bodhgaya - India, dan disini mendapatkan pengetahuan tertinggi dan disebut Bodhi. Dan setelah itu P. Sidharta berganti nama "Budha Gautama".

        Pada tingkat Arupadhatu terdapat stupa Induk yang mempunyai garis tengah sepanjang 16,20 m dan tinggi 12,8 m. Pada pemugaran yang pertama oleh Theodorus Van Erp. didalam stupa induk ditemukan sebuah arca. bentuk daripada arca tersebut mungkin sengaja dibuat tidak selesai ataupun tidak selengkap arca-arca yang lain.

        Arca ini bernama Adhi Budha, dan sekarang berada di halaman Museum Candi BOROBUDUR. Pintu gerbang Candi Borobudur berjumlah 24, yaitu 6 buah pada tiap sisi candi yang menuju ke stupa induk. Gapura yang terdapat pada pintu paling bawah sudah tidak lengkap hiasannya, hanya ornamen kepalanya saja yang ada. Sedang pada gapura yang ke 4 bentuk gapuranya sama atau kembar, pintu ini disebut pintu "Dahsyat" menuju Nirwana.

ARCA SINGA

Di Candi Borobudur terdapat 32 buah area singa, berfungsi sebagai penjaga pintu gerbang candi. Adanya area tersebut kemungkinan karena:

  • Sidharta berasal dari dinasti Sakyasimha yang mempunyai lambang singa.
  • Singa merupakan kendaraan Budha waktu naik ke Nirwana
DATA TEHNIS

  1. Tinggi candi dari dataran sampai puncak 35.29 m
  2. Panjang sisi / bentangan 119 m
  3. Luas Candi 14161 m2
  4. Jumlah stupa Keben dan ornamens 1464
  5. jumlah / Volume kaki tambahan 12.750 m3
  6. Jumlah / Volume batu bangunan 42.250 m3
  7. Jumlah / Volume batu secara keseluruhan 55.000 m3
  8. Jumlah batu dalam bentuk blok sebanyak 2.000.000 batu andesit.
  9. Jumlah panel relief ceritera 1.460 buah.
  10. Jumlah panel relief dekorasi 1.212 buah. panel relief tersebut meliputi luas 2.500 m2
  11. Berat bangunan Candi +- 3.500.000 ton.
WAICAK CEREMONY

        Once a year during the full moon in may, the Buddhists hold the Waicak ceremony commemoratng the birth of Buddha, the delivery of his first sermon and his death. The ceremony is held at the Candi mendut and is attended by thousands of Buddhists coming from all over Indonesia. The following morning the Buddhists walk in a procession from Candi Mendut passing the small Candi Pawon and finally to Candi Borobudur where another ceremony is staged. This sequence, Mendut - Pawon - Borobudur symbolizes the stages of becoming a true Buddhist. To gain a deeper understanding of the history of buddhism, visitors are advised to follow the above sequence when visiting the temples.

CANDI MENDUT

        After Borobudur, Candi Mendut is the second largest Buddhist Holy place in the Kedu area. It is located at Mendut Villag. Mungkid District, Magelang Regency, about 38 kilometers nortwest of Yogyakarta and 3 kilometers east of Borobudur. Mendut was probably erected by King Indra the first of Syailendra dynasty. We suspect that the King attempted to build a sacred edifice in order to accumulate as many virtuous deeds as possible. building a temple should be considered a virtuous deed. In addition to sacred duty. Mahayana Buddhism stresses the principle of Mahayana or mutual love among men. With the erection of the temple. King Indra complied to this principle by providing a place of worship for his followers so that they could also reach happiness and Nirvana.

CANDI PAWON

        This temple is about 1 kilometer from mendut to the west and about 1.5 kilometer from Borobudur to the east. It resembles Mendut in many ways. The temple yard for instance, is also square with it's gate to the south weast, it's box like shape has gargoyles on all four walls and finally, like Mendut the temple rests on a rectangular base that has protuding edifices along it's sides. The wall - panels display reliefs of richly attired figures, each backed by, a praba or a glowing halo, which indicates that the figures are possibly representations of celestial beings or deities from heaven. It is difficult to tell whether the figures are Bhodisatvas (initiates to Buddha hood) or Taras (scared female companions of Buddha). The normal characteristics of these figures in dress and ornament have been altered.


mohon koreksi jika ada salah dalam penulisan atau penyebutan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar